Skip navigation

Semeton sami, beberapa hari yg lalu Tiang bersama istri dan calon bayi (dalam kandungan) bisa tangkil ke tempat sembahyang di Toya Mantra. Sebelum sembahyang, mandi dulu di pancuran di seberangnya. Mudah-mudahan lahir bathin jadi bersih dan anak Tiang nantinya bisa lahir dengan selamat.

Di hari-hari suci seperti Purnama, tempat pemandian ini banyak dikunjungi oleh krama Tinggarsari.

Sekarang sudah bisa pakai motor langsung ke t4 ini, ngga kaya dulu pas tiang masih tinggal di Lateng Ngiu..

 

 

Artikel lengkap dari :

www.balirc.com

 

Ratusan Turis Saksikan Kompetisi Ukir Es di Nusa Dua Fiesta

Beritabali.com,Nusa Dua, Ratusan wisatawan mancanegara dan masyarakat lokal antusias menyaksikan kelincahan para pemahat es dalam kompetesi “Ice Carving” (pahat es), serangkaian ajang ” Nusa Dua Fiesta” (NDF) yang digelar hingga Selasa (19/10).

Sebanyak delapan peserta dari berbagai hotel berbintang di kawasan Nusa Dua dan Kuta Bali, dengan lincah memahat es yang dijadikan media untuk ukiran.

Ketua Pelaksana Kompetisi “Ice Carving”, Komang Adi Arsana di Nusa Dua, Bali, Senin mengatakan, untuk tahun ini lomba bertemakan “Free Bird Style”.

“Tema yang diangkat dalam kompetisi tersebut menyesuaikan dengan tema NDF, yaitu ‘Green Tourims’ atau pariwisata ramah lingkungan,” katanya.

Dikatakan, peserta yang ikut berkompetisi ini adalah para pemahat yang telah biasa dan terpilih mewakili masing-masing hotelnya.

“Patung es tersebut biasanya untuk hiasan meja makan atau buffet untuk restoran hotel-hotel atau restoran,” ujarnya.

Ia mengatakan, kreteria yang menjadi penilaian, meliputi seni kreasi, kesesuaian dengan tema termasuk juga ketepatan waktu.

Dalam penilaian ini kreteria tidak seperti lomba yang biasa digelar untuk memperebutkan juara, tetapi kreterianya yaitu emas, perak dan perunggu.

Menyinggung es yang digunakan sebagai bahan ukiran, kata dia, adalah es kristal seharga Rp.600 ribu per blok. Sedangkan peserta hanya dikenakan biaya administrasi sebesar Rp. 150 ribu.

“Pelaksanaan kegiatan kompetisi ini bahan berupa es kristal tersebut sudah disediakan panitia. Pemungutan biaya administrasi tersebut dalam upaya memacu keseriusan peserta,” jelas Adi Arsana.

Nengah Ada, seorang pemahat es mewakili Hotel Nikko mengaku, dirinya sudah biasa melakukan torehan maupun pahatan pada media, buah, es, striform maupun kayu.

“Profesi saya adalah mengukir dan mendekorasi ruangan di hotel tempat kerja. Memang untuk mengukir es lebih rumit dibanding mengukir buah atau kayu, karena hal itu dituntun juga ketepatan waktu,” ucapnya.

Nengah Ada menjelaskan, mengukir es, mulai awal sudah mempertimbangkan waktu termasuk teknik memotong bahan tersebut. Pembuatan patung ini harus dirancang dengan teknik imajinasi, sehingga bisa terbentuk sesuai dengan judul tersebut.

“Mengukir adalah hobi saya. Dan beberapa kali sudah ikut kompetisi seperti ini, baik nasional maupun intenasional. Tahun 1994 saya berhasil menyabet juara emas di Singapura,” tutur lelaki asal Busungbiu, Kabupaten Buleleng itu.

Pada kompetisi ini, peserta tidak ada yang meraih emas. Tetapi dari delapan peserta lima menyabet perak dan satu orang meraih perunggu. (ctg)

Sumber : http://beritabali.com/index.php?reg=&kat=&s=news&id=201010180003
Image : ilustrasi

 

Beberapa potret sebagian dari dusun Sidamukti (kebon)



Tanggal 23 September 2010 ini kembali digelar karya utawi piodalan di pura Sama Barong (masih belum yakin nih ejaan bener atau ngga). Dan kali ini prosesi upacara diiringi dengan Gong kebanggaan desa tercinta, Tinggarsari.

Baru tau (tapi blm liat langsung), bahwa di atas bebatuan tempat pemujaan ada tempat pemujaan dewi Kwan Im . Yang unik, saat ida batara rauh selalu (sepengetahuan say loh), selalu rauh juga sesuhunan yang berbahasa Cina. Dan anehnya, banyak dari dari sesuhunan yang rauh, bisa juga berbahasa Cina. Kita2 yg ngga ngerti bahasa xie xie ini, jadi bingung dan ketawa mendengarnya :)

Tangkil ke pura yg satu ini selalu membutuhkan tenaga extra, apalagi kalau hujan2. Jalanan yang kira2 1 km dari Pura Kendengan, licin total bro..Tapi di situ uniknya pura ini!

Beberapa foto yg sempet tiang ambil.

Niki adik mindon tiang, pianakne Bapa Ketut Sri di Kapas Jawa. Bapak tiang memisan ajak Bapa Ketut Sri, makane tiang dados memindon.

Beberapa hari yg lalu sudah upacara 3 bulanan. Semoga sehat selalu dan menjadi anak yg membanggakan.

Patung Ganesha ini ada di sebelah pura Pekiisan, liat pas pulkam terakhir. Mudah-mudahan desa ini makin bernilai magis dan jauh dari hal-hal tidak baik seperti judi, kejahatan, pencurian dll…

Foto Pura Pekiisan, letaknya di dekat jembatan penghubung dengan desa Subuk.

Ini dia batas antara desa tercinta Tinggarsari dan Subuk. Jembatan dibangun ketika saya masih kecil banget, mungkin 2 puluh tahunan ya. Letaknya di atas sungai Saba.

Masih terbayang dulu pas lagi hancur akibat banjir, menyebrangi sungai melewati jembatan bambu. Ada yang masih ingat?

Ini dia Komang dan anak pertamanya. Lupa namanya Komang siapa. Ini anaknya Bapa Sami (Rumahnya di atas rumah Bapa Mangku Gejen)

Mungkin ngga banyak yang tau dimana Lateng Ngiu itu? Itu dulu tempat tinggal saya loh..di seberang rumah pak Tut Sumi (Banjar Munduk), turun ke bawah (to abian ne Kak Made Ada), lalu akan ketemu sawah-sawah hingga ke sungai. Nto madan banjar Lateng Ngiu..

Buat yang tinggal di kota, sekali-sekali perlu trekking buat cari O2 yang banyak ke sini :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.